PENGGUNAAN MATERIAL / METODE PELAKSANAAN BARU: PERLU STUDY LENGKAP

(SAMPEL KASUS : INSTANT CONCRETE / DRIED MIX, GELAM PROJECT)

Proyek Gelam, yang berlokasi sangat terisolir menyebabkan kesulitan serius dalam hal delivery material dan peralatan konstruksi. Terlebih lagi dengan jadual pelaksanaan yang relative singkat, menuntut alternative pelaksanaan yang berbeda dengan metode yang umumnya dipakai. Artinya, jika menggunakan metode pelaksanaan “standard”, umumnya digunakan 2 (dua) alternative : setup batching plant atau insitu mixing (molen). Alternative pertama, tidak reliable. Biaya setup batching plant / kubikasi concrete menjadi mahal, ditambah lagi mobilization/delivery cost. Sedangkan alternative kedua, membutuhkan stock raw material yang cukup besar, juga tidak time & cost reliable.

Pada saat team proyek berusaha menjadi alternative solusi, rekan-rekan divisi CM (u.p. Pak Willy Astre) menawarkan penggunaan Instant Concrete (PT. Astasiti Mahadhana). Mengenai material tersebut, beberapa keuntungan yang dapat dicapai adalah:

  • Berbentuk prefabrication (premixed) material, sehingga merupakan material siap pakai (disite, hanya memerlukan campuran air)
  • Dapat diproduksi dengan kapasitas yang cukup besar (1000 zak/hari @ 25 kg)
  • Kemudahan handling, pada saat delivery
  • Mampu mencapai strength capacity design secara konsisten
  • Untuk lokasi terisolir, cost cukup competitive (total cost raw material dan delivery)

Beberapa keuntungan pemakaian sebagaimana disebutkan diatas, “menggiring” team proyek untuk segera memilih material tersebut sebagai alternative solusi terhadap kendala lokasi dan jadual yang dihadapi. Namun, disamping advantages diatas, beberapa hal yang “kurang jeli” dilihat untuk menjadi pertimbangan (yang kemudiaan menjadi masalah) adalah:

  • Supplier belum familiar dengan Quality Requirement untuk industrial project, terutama prosedur inspeksi. Hal ini menyebabkan, perlu keterlibatan personnel REK yang sangat intensive sejak awal, agar approval dari pihak client dapat dicapai (time consumption dan man hour cost)
  • Keperluan waktu untuk delivery serta jadual / planning actual pelaksanaan pengecoran, harus secara rinci diperhitungkan berkaitan dengan performance packing material. Meskipun campuran material yang digunakan untuk instant concrete adalah dried sand (humidity hampir 0 %), namun expiry date packing, lebih singkat dari Portland cement (banyak material “membatu”, inefficiency cost)

Dari ringkasan permasalahan dan deskripsi diatas, beberapa hal yang secara “repetitive” menjadi problem kita bersama, antara lain:

  1. Melihat permasalahan secara parsial (kasus diatas, menitikberatkan pada desakan waktu penyelesaian dalam satu hal, sehingga melupakan persyaratan lain, yang justeru juga berpengaruh pada jadual pelaksanaan pekerjaan)
  2. Tidak melakukan perencanaan awal secara rinci (kasus diatas, persyaratan / keterbatasan umur pakai packing instant concrete, baru diidentifikasi pada saat material sudah onsite)

Demikian salah satu permasalahan yang pernah saya hadapi, yang dapat dijadikan pengalaman untuk perbaikan pekerjaan selanjutnya.