Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya, Evaluasi Kekuatan Beton, saya banyak menerima pertanyaan yang senada yang intinya adalah “Bagaimana jika kekuatan beton yang  telah terpasang ternyata tidak sesuai rencana ?”.

Nah, di sinilah seninya bekerja dengan beton. Apabila didapati hasil uji di laboratorium yang memilik nilai kekuatan yang tidak memenuhi syarat, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memastikan dulu sambil berharap-harap cemas apakah kekuatan beton yang terpasang masih memenuhi syarat. Memang sepertinya mustahil, karena perawatan beton di lapangan biasanya tidak lebih baik daripada perawatan beton di laboratorium, sehingga hasil kekuatan beton di lapangan biasanya tidak lebih besar daripada beton di laboratorium. Tapi apa salahnya mencoba… who knows… iya nggak ?

Pengujian Lapangan

Ada beberapa cara untuk melakukan pengujian beton aktual di lapangan. Ada yang sifatnya non-destruktif (tidak merusak), dan ada yang sifatnya destruktif (merusak).

Hammer Test (Pengujian Palu Beton)

Alternatif pertama yang diambil dulu tentulah yang tidak merusak, yaitu dengan hammer test, sesuai SNI 03-4430-1997 Metode Pengujian Elemen Struktur Beton dengan Alat Palu Beton Tipe N dan NR. Test ini mudah dilakukan dan cepat. Hammer test dilakukan pada beberapa titik di area di mana mutu betonnya diragukan. Apabila dari hammer test ini didapatkan hasil yang masih tidak memenuhi syarat atau meragukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan test beton inti (core drill).

Core Drill Test (Pengujian Beton Inti)

Pengujian ini merupakan cara uji yang sifatnya merusak (destruktif). Bagian beton yang meragukan dibor untuk diambil sampelnya. Pengambilan sampel dilakukan pada daerah yang tidak kritis (tidak pada daerah tekan atau geser maksimum), dan lubang bekas bor harus segera diisi dengan beton dengan mutu yang sama. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian kekuatan sesuai standar SNI 03-2492-2002 Metode Pengambilan dan Pengujian Beton Inti.

So… What’s Next ?

Ok … Jika pengujian lapangan baik dengan hammer test atau core drill memberikan hasil yang memenuhi syarat, maka case closed, masalah sudah selesai. Tapi bagaimana kalau kedua pengujian tsb tidak memberikan hasil yang memuaskan ? Well… sad to say bahwa beton tsb memang tidak memenuhi syarat. Lalu, apa yang harus dilakukan ?

Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, mulai dari yang biayanya paling sedikit, sampai yang paling mahal. Saya akan jelaskan satu per satu mulai dari yang paling murah.

Alternatif – 1: Realokasi dan Pembatasan Beban

Maksudnya di sini adalah kita analisa ulang gedung tsb dengan asumsi beban-beban yang dibatasi dan direalokasi. Membatasi beban misalnya dengan memberikan rambu-rambu peringatan beban maksimum yang dipasang di daerah tsb, atau merealokasi beban ruangan, misalnya yang seharusnya area tsb merupakan ruang berkumpul bersama diubah menjadi ruang private (beban hidupnya lebih kecil). Jadi pada intinya adalah mengurangi beban maksimum pada area yang kekuatan betonnya rendah. Namun, kalau di sini kita sebagai kontraktor, kita perlu persetujuan dari pemilik proyeknya untuk melakukan realokasi ini… he.he…

Alternatif – 2: Perkuatan Struktur

Struktur dianalisa ulang dengan memberikan perkuatan seperti, misalnya dengan memperbesar kolom, menambah kolom, memasang produk perkuatan struktur, dll. Tentunya penambahan struktur perkuatan ini akan memberikan dampak pada tata ruang dan fungsi ruang pada daerah yang diperkuat tsb. Misalnya, kolom yang diperbesar akan mengurangi luas area di daerah tsb, atau penambahan kolom akan memberikan “gangguan” pada ruangan, dsb. Pekerjaan ini membutuhkan tambahan biaya dan waktu yang lumayan, namun tidak sebesar alternatif-3.

Alternatif – 3: Pembongkaran dan Pengerjaan Ulang

Ini alternatif yang paling tidak disukai, baik oleh kontraktor maupun oleh pemilik proyek sendiri. Biasanya alternatif ini diambil jika alternatif-1 dan 2 tidak dapat dilaksanakan. Struktur yang betonnya tidak memenuhi syarat harus dibongkar dan dibuat ulang. Selain merugikan kontraktor karena ada penambahan biaya, hal ini juga merugikan pemilik proyek karena penyelesaian proyeknya akan mundur dari jadwal rencana, artinya gedung yang dibangun tidak dapat segera digunakan sebagaimana yang telah direncanakan.